Nov 12, 2014 izan Kesehatan, Pangan, Teknologi
Semarang - Dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2014 yang diadakan pada 30/10/2014 - 01/11/2014 yang diselengarakan di Jakarta . Alat pendeteksi Borax berbentuk tusuk gigi karya Luthfia Adila (17) dan Dayu Laras Wening (17) siswi kelas XII SMA N 3 Semarang berhasil mendapat medali emas.
Di ajang bertaraf international yang dikikuti kurang lebih 300 perserta dari 38 negara ini Adila dan Wening tidak menduka hasil karyanya dapat mengalahkan pesertalain yang berasal dari dalam dan luar negeri.
Bagaimana ide penemuan itu berawal , Salah satu pembuat karya Stick Of Borax Detector (SIBODEC)ini Wening mengungkapkan awal ide itu karena maraknya isu daging dan makanan yang mengandung Borax. Dan pendeteksian Borax dalam daging ternyata memakan waktu cukup lama.
“Berawal dari kepekaan kita pada lingkungan. Ternyata kalau mau cek itu harus ke labolatorium, bayar Rp30.000 untuk satu sample dan menunggu sekitar 3 minggu untuk prosedurnya,” Ungkap Wening.
Dari hasil berkonsultasi dengan guru pembimbing mereka, hingga akhirnya terpikir menggunakan tusuk gigi karena praktis dan yang pasti murah.
“Jadi orang-orang kalangan bawah juga harus bisa cek sendiri. Kalau pakai tusuk gigi kan murah, praktis. Tadinya kepikiran pakai tusuk sate, tapi kebesaran,” tambahnya.
Dengan dibantu guru pembimbingnya , Lutfhia dam Wening melakukan penelitian sejak kelas X, baru pada tahun 2013 menemukan racikan bahan herbal yang salah satunya berasal dari kunyit untuk merendam tusuk gigi sehingga bisa menjadi detector borax.
Cara kerjanya, tinggal menusukkannya ke daging atau makanan, tunggu 5 detik.
“Kalau berubah merah, berarti mengandung Borax. Tidak hanya daging, bisa juga mi, caranya digulung dulu jadi bola lalu ditusuk. Kalau krupuk, dihancurkan dan dicampur air kemudian oleskan di tusuk gigi,” Jelas Wening.
Saat ini Wening dan Luthfia masih enggan mengungkapkan secara detail rahasia pembuatan tusuk gigi ajaib itu karena sedang berusaha mendapatkan hak paten atas karya temuan mereka.
“Balai Besar POM Semarang ikut membantu pengujian. Kemarin datang ke Sekolah dan mereka mengakui kalau temuan kami lebih efisien meski harus ada yang diperbaiki lagi,” tambah Wening.
Selain mengusahakan hak paten, mereka juga sudah berencana menjual SIBODEC dengan kemasan kotak kecil berisi 35 sachet dengan harga Rp35.000.
Menurut guru pembimbing Agus P mengatakan temuan dua siswi itu sudah pernah menjadi juara 3 dalam ajang Nasional Young Innovator Award (NYIA) tahun 2013. Kini SIBODEC diajukan lagi ke ajang yang lebih tinggi.
(whd/solopos)

Mama Izan , Lulusan Sekolah Tinggi di bandung . Pernah bekerja di perusahaan telekomunikasi . Tertarik dibidang teknologi, pertanian , memasak dan menulis . Bergabung di gemamedia news sejak Agustus 2014.
|
Today
541Asia/Jakarta002016k
20%
Partly Cloudy
Partly cloudy. High 32C. Winds NE at 10 to 15 km/h.
|
|
|
Tomorrow
541Asia/Jakarta002016k
30%
Chance of a Thunderstorm
Sun and clouds mixed with a slight chance of thunderstorms during the afternoon. High 32C. Winds NE at 10 to 15 km/h. Chance of rain 30%.
|
